Minggu, Desember 12, 2010

Catatan Perjalanan ke TMII

Akhirnya setelah dormant selama 2 hari sejak Jum'at kemarin, hari ini saya keluar dari kost-anku tercinta di Murtadho. Setelah makan siang, jam 14.00 WIB, bersama Wardah dan Nela, saya berangkat menuju TMII dengan rute Salemba UI-PGC (Busway), kemudian nyambung mikrolet T 02 jurusan Cililitan-Cilangkap, turun di gerbang 3 TMII.

Sesampai di TMII, setelah membawar tiket @ Rp 9.000;, kami langsung menelusuri ruas-ruas jalan, melewati Museum Olahraga, Museum Telekomunikasi, beristirahat sebentar di Desa seni dan Kerajinan untuk ke kamar kecil. Wah, ternyata setelah 4 tahun lebih tidak ke TMII tarif kamar kecil juga sudah naik 300%, menjadi Rp2000/"transaksi".

Awalnya kami berencana untuk berkeliling TMII dengan sepeda, namun karena tidak ada sepeda yang gandeng 3 ( alasan yang mengada-ada kayaknya) maka kami memutuskan berjalan kaki. selanjutnya kami menuju Tugu Api Pancasila. Di sini kami mengambil beberapa foto-foto, dan yang lucu adalah si Wardah mengajak badut berfoto. Ternyata setelah berfoto si badut minta bayaran....hahaha keluar deh uang 2000 lagi.

Selanjutnya kami berjalan ke arah Utara, melintasi stasiun sky lift ke arah anjungan-anjungan provinsi. Diantaranya kami singah untuk ambil foto-foto di Anjungan Jambi, Riau, SumBar, Sumut, Aceh. Sesampai di Anjungan KalBar,kami berkunjung ke Rumah Betang, rumah adat suku Dayak, dan menonton anak-anak Sanggar Borneo Khatulistiwa sedang latihan tari tradisional kreasi. Di anjungan Kalbar, saya menemui kepala anjungan, Bang Juki, untuk menanyakan tentang program latihan menari tradisional. Dari beliau sada memperoleh informasi bahwa latihan tari Dayak diadakan setiap kamis dan minggu sore. Wah asyik juga nih kayaknya kalo gw ikutan latihan 1 tari tradisional, bisa unjuk kebolehan nanti di luar negeri. Fortunately, ternyata gw bisa ikut latihan di sana.Berhubung hari sudah menunjukkan jam 5 sore, kami memutuskan untuk segera pulang karena kami masih akan mampir ke tempat kadek di Kramatjati.

Sesampai di Kramatjati, Kadek sudah menunggu. Kami berjalan kaki menuju tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 10 menit perjalanan. Dalam perjalanan kami singgah dulu di Masjid untuk menunggu Wardah yang menunaikan sholat magrib. Sesampai di tempat Kadek, kami di sambut dengan hangat oleh keluarga beliau. Cerita punya cerita, ternyata si Wardah ketemu sesamo orang Palembang. Istri yang punya rumah ternyata orang Bali yang dari kecil sudah tinggal di daerah sekitar Palembang. Setelah ngeteh, makan, dan ngopi, kami terpaksa pamitan pulang ke kost lagi karena takut kehabisan busway, angkutan murah meriah bagi para Fellow Elect.

Meskipun sempat terpisah busway dengan Wardah, akhirnya kami sampai di halte UI pada waktu yang hampir bersamaan. Ternyata wisata ke TMII itu hanya murah biaya masuknya saja ya...semua yang ada di dalamnya ternyata harus bayar, kecuali lihat-lihat anjungan.

1 komentar:

Nela Wuran mengatakan...

ehm ehm ehm,,harap di catat ,,,,setelah makan siang jam 14.00 wIB itu titik dong soalnya makan siang nya kan gak bareng :)