Minggu, Januari 22, 2012

Berkah di bulan Januari

Siang tadi aku membaca status temanku, Anton,  di FB :
setelah kami menimbang & menilai akhirnya kami ber 2 memutuskan n menetapkan namanya adalah "GENAIA BENEDICA JESLIN"....

Aku tersenyum...pikirku: Wah ternyata usulan nama untuk anak mereka yang kusampaikan melalui statusnya kemarin di pakai, yaitu "Gennaia Benedica" . Dua kata ini berasal dari bahasa Italia, Gennaia berarti Januari dan Benedica berarti rahmat atau berkat. Jadi Gennaia Benedica bisa di artikan secara sederhana rahmat/berkat yang datang di bulan Januari. Sedangkan Jeslin sendiri menurut perkiraanku pastilah akronim dari nama kedua orang tuanya. Anyway... Selamat Buat Anton dan Yuli...semoga GENAIA BENEDICA JESLIN menjadi berkat buat kalian berdua dan di manapun dia berada.

Senin, Januari 09, 2012

Modal nekat menari di Belanda

Seperti mimpi rasanya bisa menampilkan tarian tradisional di luar negeri. Itulah yang aku rasakan sabtu lalu, 7 Januari 2012 saat saya berkesempatan tampil di acara penutupan pasar malam Indonesia di Burgerszoo, Arnhem, Belanda. Burgerszoo ini adalah kebun binatang yang didalamnya memiliki suhu tropis karena merupakan kebun binatang indoor. namun karena ukurannya yang sangar besar, kita tidak merasakan kalau sedang berasa di dalam ruangan. Kita bisa melihat burung terbang, pohon tinggi, tanaman tropis seperti pisang, kopi, coklat, dan binatang-binatang tropis. Selain itu, kebun binatang ini juga memiliki koleksi gurun dan laut.

Tari Mandau
Hal ini bermula dari ajakan Kak Rachma, seorang coordinator sanggar Wahana Budaya, sehari sebelumnya kepada saya untuk ikut menarikan tarian Mandau dan Tinggang Amboyo. pada awalnya, saya agak ragu karena sepanjang sejarah hidup saya baru sekali saya menari di panggung, yaitu saat mengikuti kontes Bujang gawai di Festival Budaya Binua Landak (FBBL) 2009 lalu. Itupun hanya aksi panggung, bukan benar-benar menari.  Namun karena niat ingin memperkenalkan budaya daerah ke khalayak ramai, saya akhirnya menyanggupi ajakan kak Rachma tersebut.

Tari Tinggan Amboyo
Untuk persiapan pada penampilan ini sangat unik. Setelah saya setuju untuk ikut menari, saya dikirimin musik untuk tarian Mandau dan Tinggang Amboyo. lalu saya mencoba menari dan merekam tarian saya, dan mengirimkannya kembali ke kak rachma untuk di lihat. Ternyata menurut dia, contoh tarian tersebut lumayan dan saya bisa tampil.  Alhasil, sekitar satu jam sebelum tampil kami melakukan gladi resik untuk koordinasi gerakan, baik untuk tari Mandau ( berdua dengan Kak rachma) dan tari Tinggang Amboyo ( kelompok 4 orang).

Akhirnya, dengan modal nekat dan percaya diri. Pementasan tarian sukses dilakukan. Pengalaman ini menambah pemahaman saya bahwa ketika kita berfikir bahwa kita mau melakukan sesuatu, dan kita percaya kita bisa melakukannya. Maka, lakukanlah.


Selasa, Agustus 16, 2011

Setahun tepat pengumuman memperoleh Beasiswa IFP

 Tidak terasa hari ini tepat satu tahun sejak pengumuman saya lolos beasiswa IFP.  Saat buka notifikasi FB,  tadi teman saya, Winarto, memberikan komentar ke status saya tanggal 16 Agustus 2010 "Hore...akhirnya tercapai juga impian ke luar negeri...siap2 ni mengurus semuanya!". Katanya, "tepat satu tahun pengumuman beasiswa" . . .

 Waktu memang berjalan begitu cepat dan seolah tidak terasa lama. Setahun berlalu: enam bulan belajar di LBI UI, dan 4 bulan belajar di CES Maastricht University. Besok, kebetulan bertepatan dengan peringatah HUT RI ke-66,  saya akan menerima sertifikat kelulusan short course Bahasa Inggris dan Academic Skill. Dan keesokan harinya, saya akan menuju ke Universitas Wageningen untuk memulai study master Environmental Science: Energy Technology.

Jumat, Agustus 12, 2011

The last day PAT Class

After four months tired with IELTS, study skill and computer classes, now is the last day of the PAT April Class. It was a wonderful experience to be able to become a student at Maastricht University, even just for a short period.

Here, not only  I learned about the academic, but also how to adapt with new life environment and friends. What can I say now is: Thank a million for all teachers that was taught us (Rebecca Cooke, Kevin Richardson, Annemarie Simons , Kristine Sorensen, Andrea Marques, Laura Sarino, Hannerieke van der Boom). See you on the next occasion...

Kamis, Agustus 11, 2011

Wonderful Result

Yesterday at around 11 am, when we were busy to do an SPSS and Excel exercise in computer class with Andrea marques, our teacher, I saw Wardah stood up on the corner and raised her hands to God. I was confused and started to ask: What's going on? She said: "IELTS result was issued and we are sent from sms by Aude, CES staff". Unfortunately, I forgot to bring my handphone at that time.

Immediately, I started to search the result online through the IELTS official website- actually I had tried to find it since last night- but I still didn't have any result. It hasn't been published yet. I didn't lost my idea. I sent an email to Aude that told I forgot to bring my phone and asked the result and continued my exercise.

Emilius Sudirjo to Aude
show details 11:31 AM (12 hours ago)

Dear Aude,

I forgot to bring my phone today. could you email my IELTS result to me?

Regards,

Emil

About 5 minutes later, a notice message from my g-mail appeared on the right-top my screen, it was from Aude. With a palpitated heart, I opened the mail.

Collioud Aude (SSC) to me
show details 11:34 AM (12 hours ago)

J

Of course!!

You did excellent: Congratulations!!

L: 7.5 R: 8.5 W: 6.0 S: 7.0

Overall: 7.5

Well done!!

THANKS GOD.... It was an amazing result that I ever got. I was very happy because every single effort made since I came to Maastricht was paid off. It's 1,5 higher than my result in Jakarta.

However, the most important is I don't need to book my return ticket to Indonesia now but next year or two year later. And I say "Wageningen, I'm coming"

Sabtu, April 23, 2011

Kamis putih dan Jum'at Agung di Maastricht

Memasuki tri hari suci paskah aku teringat akan meriahnya perayaan di tanah air, terutama di tempat kelahiranku di Kalimantan Barat. Gereja-gereja penuh oleh umat yang ingin beribadat, mulai dari anak-anak sampai ke orang-orang tua. Mereka bersuka ria untuk beramai-ramai bersama berdoa di Gereja.

Suasana begitu berbeda ketika aku dan temanku, Petronela (Indonesia) dan Villialdo (Guatemala) menghadiri ibadat Jum'at Agung di Pusat Paroki gereja Santa Theresia, Maastricht. Di gereja megah, seperti Katedral di Jakarta, ini sejauh yang saya bisa perhatikan hanya kami bertigalah anak mudanya. sisanya adalah mereka yang usianya kuperkirakan lebih dari setengah abad...Hal yang sama terjadi juga saat aku dan Nela Misa kamis putih di Kapel biara Suster-suster carolus Boromeus( Suster yang sama yang mengurus rumah sakit St.Corolus Jakarta) di dekat Centrum Maastricht.

Menurut suster Hedwig, asal Indonesia, yang sudah 2 tahunan ini bertugas di Maastricht, penomena ini adalah hal biasa yang sekarang di Belanda. Ia mengambil contoh bahwa biara mereka sudah 25 tahun terakhir ini tidak ada pelamar dari Belanda. Semua suster-suster muda yang saat ini bertugas berasal dari Indonesia, Philipina, Tanzania, dan daerah lainnya di luar Eropa. Untuk saat ini tambah beliau hampir tidak mungkin ada pelamar dari warga lokal. Aku jadi teringat saat PDO sebelum keberangkatan, dimana dari statistik penduduk Belanda di ketahui bahwa banyak dari mereka adalah tidak beragama. Namun, sisi kontrasnya adalah tingkat kriminalitas di sini cukup rendah.

Sungguh miris memang jika mengkilas balik ke beberapa abad yang lalu. Dulu Belanda, Eropa umumnya, adalah pusat penyebaran agama Kristen. Hal ini bisa diketahui dari teks-teks sejarah dan bukti nyata yang masih bisa di saksikan sekarang adalah bahwa Gereja sangat banyak dan dapat ditemukan dengan mudah, terutama di Maastricht. Namun kini sungguh kontras, gereja-gereja di Maastricht banyak yang sudah di alih fungsikan. Ada yang menjadi toko buku, hotel, dll.

Kembali saya berpikir saat selesai Ibadat Jum'at agung, "trend beragama kini mulai berbalik". Jika dulu para misionaris datang dari Eropa ke Asia, maka kini mereka datang dari Asia ke Eropa...

Namun, apapun yang terjadi sekarang ini, saya yakin bahwa Tuhan pasti punya rencana yang indah bagi umatnya.

Selamat Paskah untuk semua yang merayakannya.


Kamis, April 14, 2011

Hari ke tiga di Maastricht

Rabu, 13 April 2011...

Hari in icerah...dari forecast suhu sekitar 9 - 11 C. Kegiatan dari CES di mulai jam 2.15 pm, jadi pagi harinya kami masih punya banyak waktu bebas. Bangun pagi sekitar pukul 3, setelah mendengar teman sekamarku -Om John- bangun, terasa sangat dingin. Ada sedikit kejadian menarik ketika Om John menghidupkan tv pagi ini. Ternyata hampir semua stasiun TV menayangkan iklan dan acara dewasa, sampai ada yang benar-benar tanpa busana.

Pukul 6 am, kami masak sarapan pagi di kamarnya Wardah. Masih seperti hari sebelumnya, karena tidak punya minyak goreng, terpaksa saya kembali membuat pizza ala "Borneo". Setelah sarapan rencananya kami mau ke Asia Market jam 9. Namun karena harus melaundry pakaian di laundry room dengan mesin cuci Siemens yang belum pernah kami pakai, terpaksa kami harus mengganti tujuan ke Groceries terdekat, C 1000.

Bicara mengenai Laundry juga lucu. Jam 8 am kami ke laundry room dan ternyata kami tidak tahu bagaimana mengoperasikan mesin cucinya karena petunjuknya dalam bahasa Belanda. Om John berinisiatif menanyakan kepada ketugas receptionis. Namun karena jam kantor di Belanda adalah antara jam 9 am - 5 pm, receptionis belum datang dan yang ada hanya security, yang selalu ada 24 jam. Ternyata sang satpam juga kurang bisa mengerti mengoperasikan mesin cuci itu. Akhirnya saya hanya minta dia menterjemahkan bahasa belanda yang tertulis di mesin ke Inggris saja. Selanjutnya kami mencoba sendiri menggunakannya. Akhirnya, dengan naruli seorang engineer, saya sukses menggunakan mesin tersebut. Karena kami mencuci bersama, baru sekitar pukul 10.30 am pekerjaan kami selesai.

Berhubung kegiatan dari CES akan di mulai pada 2.15 pm, kami akhirnya memutuskan berbelanja ke tempat belanja yang terdekat dari penginapan, yang dapat ditempuh hanya sekitar 5 menit perjalanan. Cukup banyak bahan makanan yang kami beli, yang diperkirakan cukup sampai akhir minggu ini seperti : kentang, daging, bawang, minyak goreng, sambal, kecap, sawi, brocoli, dan buah-buahan. total belanjaan kami sekitar 3 kantong besar milik C 1000 dan hanya menghabiskan uang sebesar e 29,75. Untuk urusan belanja kami menggunakan uang kas hasil iuran sebesar e 20/orang/minggu yang akan digunakan untuk makan pagi dan malam. Untuk urusan makan sian kita akan membeli sendiri.

Tepat pukul 2.15 pm, kami di jemput oleh Bert. agenda hari ini adalah pengambilan fas foto untuk mengurus resident permit hari Jum'at nanti dan membuka bank account. Yang menarik dari pembuatan fas foto di sini adalah hasilnya langsung jadi tidak sampai 1 menit.... AMAZING.

Selesai berfoto, selanjutnya kami menuju Bank Ing. Membuka rekening Bank di Belanda harus mengisi form berbahasa Belanda. Untuk urusan ini untung kita ada yang membantu menterjemahkannya sehingga kita dapat mengisi dengan benar. Hanya saja tidak seperti di Indonesia yang nomer rekeningnya langsung jadi, di sini nomer rekening baru jadi setelah 5 hari kerja dan akan di antar ke alamat kita. Sebagai student, kami hanya perlu membawa certificate of enrollment dan Passport. Namun untungnya adalah kita tidak perlu mendepositkan se Euro pun untuk buka rekening.

Setelah selesai urusan dengan Bank acara selanjutnya adalah tour keliling kota dengan guide dari Maastricht city tour, Joop. Tour yang memakan waktu 1,5 jam ini di mulai dari pusat kota Maastrich, Gereja St. Servaas. Berkeliling di benteng Maastrich yang dulunya membentang mengeliling kota Maastrich dengan 13 menara. Namun hanya ada 1 menara yang tersisa hingga kini. Menara ini di bangun sekitar tahun 1229. Kemudian ke penggilingan gandum yang masih menggunakan kincir air, pusat perbelanjaan termahal di Stokstraat, dan banyak bangunan tua lainnya yang saya tidak ingat namanya. Namun yang menarik adalah semuanya masih terjaga hampir seperti aslinya dulu. Tepat pukul 6.00 pm tour guide kami mengakhiri tournya dengan mengatakan bahwa dalam waktu hanya 1,5 jam yang bisa ia lakukan hanya menunjukkan secara garis besar saja sepenggal sejarah maastricht, tidak mungkin untuk memberi semua deatilnya. Jika kami ingin mengetahui lebih lanjut lagi silakan membuat janji tour lagi. Untuk tawaran terakhir ini bagi saya mungkin adalah hal yang hampir tidak akan saya lakukan, karena bagi saya apabila sudah memegang peta dan buku petunjuk maka semuanya akan beres.

Selesai tour kami kembali ke Guest House, di sana juga sudah sampai satu lagi teman dari tanah air yang kemarin sempat bermasalah dengan visa,- salah gender-, Petronela. Sebelumnya dia sempat menunggu lama jemputan dari CES di stasium kereta Maastricht.

Kegiatan hari ini di tutup dengan santap malam bersama di basecamp kami di kamar P3.00.05.2 dengan menu cah brokoli daging sapi, sop kentang dan wortel, kopi pontianak, dan wine, total nilainya sekitar 8 euro untuk makan 6 orang. Murah bukan.......

Ini dulu cerita hari ini...besok saya cerita lagi.....